Upaya Pengarusutamaan Pendidikan STEM di Indonesia

Kamis, 29 Mei 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta,telusurSUMUT.com-Indonesia masuk dalam klasemen lima teratas negara-negara dengan penduduk paling banyak di dunia. Ada lebih dari 281 juta penduduk yang mendiami Sabang hingga Merauke. Namun demikian, dengan jumlah human resource yang dapat dibilang fantastis tersebut, Indonesia belum pernah mendapatkan satupun penghargaan nobel.

India sebagai negara di puncak klasemen negara yang populasinya paling tinggi telah mengantongi sebanyak 5 nobel dalam bidang sains. China telah mendapatkan 10 Nobel, Amerika 400 dan terakhir, Pakistan meraih 1 nobel fisika berkat dedikasi Prof. Abdus Salam. Ini menjadikan menjadikan Indonesia menjadi satu-satunya di antara lima negara dengan penduduk terbanyak di dunia yang belum pernah mendapatkan penghargaan nobel, terlebih nobel dalam bidang STEM (Sains, teknologi, engineering, dan matematika).

Lantas, mengapa belum ada satupun warga Indonesia yang mendapatkan nobel dalam bidang STEM?

Sebenarnya, banyak sekali faktor yang mempengaruhi hal tersebut seperti bagian-bagian kecil dan unik dari sebuah puzzle. Kehilangan satu bagian akan menjadikan puzzle tersebut tidak utuh lagi. Salah satu faktor yang berkontribusi pada problem tersebut adalah masih rendahnya minat anak bangsa terhadap STEM.

Bak pepatah lama “sudah jatuh, tertimpa tangga pula”, selain minat masyarakatnya pada sains yang masih rendah, saat ini Indonesia juga tengah mengalami penurunan tren terkait minat anak-anak Indonesia di bidang sains. Adanya penurunan tren tersebut disampaikan oleh Yudi Darma, Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kemendikti Saintek di acara Ngopi Bareng Kemendikti Saintek bulan Februari 2025 lalu.

Apabila ini dibiarkan terus-menerus tanpa intervensi, bukan tidak mungkin minat anak-anak Indonesia terhadap sains akan semakin menurun secara signifikan. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada ketidakmampuan suatu negara berinovasi dan memproduksi teknologinya sendiri, sehingga menjadikan negara tersebut hanya menjadi pengkonsumsi atau lebih buruknya lagi ketergantungan pada teknologi dari negara lain.

Baca Juga:  Masyarakat Ungkap Infrastruktur Jalan dan Faskes Perlu Perhatian Khusus

Oleh karena itu, minat anak Indonesia terhadap STEM perlu dipupuk dan difasilitasi sejak usia dini. Hal tersebut merupakan bagian dari usaha untuk menyiapkan saintis-saintis bertalenta di masa yang akan datang.

Pengarusutamaan STEM

Penumbuhan minat pada STEM ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan memperbanyak bahan bacaan yang berbasis STEM untuk anak-anak yang menarik dan dekat dengan kehidupan anak. Selain itu, metode pengajaran STEM yang mengasyikkan dan kontekstual di sekolah-sekolah juga menjadi kunci utama untuk meningkatkan minat anak.

Upaya peningkatan minat anak terhadap STEM ini tentunya merupakan pekerjaan rumah yang cukup besar bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dan Kementerian Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi (Kemenristek Dikti) dan masyarakat Indonesia secara umum.

Pada Rabu, tanggal 28 Mei 2025 lalu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan the Riady Foundation meluncurkan sebuah program yang diberi nama STEM Indonesia Cerdas. Ini merupakan upaya kemendikdasmen di bawah kepemimpinan Abdul Mu’ti untuk mengarusutamakan STEM di kalangan anak-anak Indonesia.

Melalui gerakan tersebut, Abdul Mu’ti ingin tidak ada lagi mitos-mitos bahwa STEM itu costly, sophisticated and complicated. Ia menekankan bahwa gerakan STEM Indonesia Cerdas ini mampu mengubah mindset anak-anak dari mitos-mitos tersebut menjadi mindset bahwa STEM itu mudah, murah dan menyenangkan. Dalam jangka panjang, program ini diharapkan mampu meningkatkan minat anak-anak Indonesia pada STEM.

Apakah usaha pengarusutamaan ini nantinya mampu meningkatkan minat anak-anak terhadap STEM serta melahirkan saintis-saintis hebat di masa yang akan datang? Well, mari kita doakan dan saksikan bersama.(*)

Sifa Lutfiyani Atiqoh, Penulis adalah Pegiat Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS-UMS), dan alumni School of Education, University of Glasgow.

 

Berita Terkait

Kemenag-Sekolah Tinggi Konghucu MoU Program Bahasa Mandarin Lingkungan Madrasah, Dr H Saripuddin Daulay: Bahasa Mandarin Pintu Lapangan Kerja Diera Globalisasi
Dari Lahan Jagung Seraya Menanam Literasi Keimigrasian, Imigrasi Yogyakarta Bangun Benteng Desa Cegah Dini TPPO
Sekilas Tentang Desa Batu Mamak, di Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara
87.000 Bibit Mangrove INALUM terus Dirawat, Benteng Hijau Pesisir Sumut Lawan Abrasi dan Iklim
Kopri PKC PMII Sumut Kecam Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Murid SD
“Lelaki Itu Menanam Sebelum Ada yang Peduli” Raih Juara 1 IN-Journal Chapter II
Sekilas Tentang Sepak Bola di Padang Bolak dari Masa ke masa
Bangun Indonesia dari Desa, Ketua DPD AKSI Sumut Ajak Kepala Desa Sukseskan KDKMP sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 08:18 WIB

Kemenag-Sekolah Tinggi Konghucu MoU Program Bahasa Mandarin Lingkungan Madrasah, Dr H Saripuddin Daulay: Bahasa Mandarin Pintu Lapangan Kerja Diera Globalisasi

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:56 WIB

Dari Lahan Jagung Seraya Menanam Literasi Keimigrasian, Imigrasi Yogyakarta Bangun Benteng Desa Cegah Dini TPPO

Selasa, 28 Juli 2026 - 12:09 WIB

Sekilas Tentang Desa Batu Mamak, di Padang Bolak Kabupaten Padang Lawas Utara

Senin, 27 Juli 2026 - 13:03 WIB

87.000 Bibit Mangrove INALUM terus Dirawat, Benteng Hijau Pesisir Sumut Lawan Abrasi dan Iklim

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:32 WIB

Kopri PKC PMII Sumut Kecam Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Murid SD

Berita Terbaru