TelusurSUMUT.com– Warga Dusun Huta 9, Desa Bandar Tinggi, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengaku resah dan hidup dalam bayang-bayang ketakutan akibat maraknya tindak pencurian yang dinilai belum mendapat penanganan serius dari aparat penegak hukum. Salah satu kasus yang kini menjadi sorotan publik menimpa Sulistio, warga setempat yang mengalami kerugian hingga jutaan rupiah setelah rumahnya dibobol maling. Senin, 11/5.
Peristiwa itu bermula ketika Sulistio melihat dua pria berdiri mencurigakan di sekitar pekarangan rumahnya. Karena curiga, ia mendekati keduanya dan menanyakan tujuan mereka berada di lokasi tersebut. Namun jawaban salah satu pria yang diketahui bernama Kema justru membuat Sulistio terkejut.
“Kami sedang mencuri buah sawit milik PT Mois di sekitar sini,” ujar pria tersebut secara santai di hadapan korban.
Pengakuan tersebut semakin memperkuat kecurigaan Sulistio terhadap hilangnya sejumlah barang berharga miliknya. Korban kemudian mempertanyakan apakah kedua pria itu juga terlibat dalam pencurian barang di rumahnya.
Namun Kema membantah tuduhan tersebut dan berdalih bahwa pupuk yang berada padanya ditemukan di dekat pohon ubi yang lokasinya jauh dari rumah korban.
Meski demikian, Sulistio meyakini ada keterkaitan antara keduanya dengan kasus pencurian yang dialaminya. Pasalnya, sejumlah barang berharga miliknya hilang, di antaranya 5 karung pupuk, 1 unit aki, 1 alat pengolah air, serta 4 ekor burung murai batu koleksi pribadi. Total kerugian diperkirakan mencapai hampir Rp9 juta.
Merasa dirugikan, Sulistio pun melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian pada Kamis, 22 April 2026. Laporan itu tercatat dengan nomor:
**LP/B/151/IV/2026/SPKT/POLSEK Bandar Huluan/Polres Simalungun/Polda Sumatera Utara.**
Tidak hanya membuat laporan, korban juga menghadirkan dua orang saksi yang telah diperiksa dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh Aiptu Idris.
Namun hingga kini, warga menilai belum ada tindakan tegas terhadap terduga pelaku. Kema dan rekannya disebut masih bebas berkeliaran di lingkungan masyarakat, sementara barang milik korban belum juga ditemukan.
Kepala Dusun Huta 9, Saharudin, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Ia menyebut kasus pencurian di wilayahnya sudah berulang kali terjadi dan membuat masyarakat merasa tidak aman.
“Kejahatan seperti ini sudah sering terjadi di sini, tapi sampai sekarang belum ada perubahan nyata. Warga hanya ingin rasa aman kembali,” ujar Saharudin dengan nada kecewa.
Menurutnya, masyarakat berharap aparat kepolisian dapat segera bertindak tegas agar pelaku mendapat efek jera dan kasus serupa tidak terus berulang.
Hal senada disampaikan tokoh masyarakat, Yusri Bajang. Ia mengutuk keras tindakan para pelaku dan meminta aparat penegak hukum serius menangani laporan warga.
“Korban sudah membuat laporan resmi, saksi sudah diperiksa, BAP sudah dibuat, bahkan nama terduga pelaku juga sudah diketahui. Tapi sampai sekarang mereka masih bebas. Ini yang membuat masyarakat mempertanyakan keseriusan penanganan kasus,” tegas Yusri.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, pihak kepolisian melalui Ipda Amri J. Sitanggang, SH menyampaikan bahwa kasus tersebut saat ini “sudah dinaikkan ke sidik”.
Meski begitu, warga berharap proses hukum tidak berhenti sebatas administrasi semata. Masyarakat meminta aparat segera mengambil langkah nyata demi mengembalikan rasa aman di tengah lingkungan mereka.













