TelusurSUMUT.com — Dalam gelombang baru ketidakpastian, tragedi di jalur kereta api kawasan industri semakin menunjukkan betapa sulitnya menemukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab. Dua tahun lalu, kecemasan tentang keselamatan telah terungkap, dan sekarang, Muhammad Syafii dan warga lainnya hanya bisa berharap ada langkah konkret yang diambil oleh pihak berwenang.
Syafii, Pemuda Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, mengekspresikan kekecewaannya “Kita semua sudah tahu ini akan terjadi, tapi siapa peduli?” ujarnya dengan nada sinis. “Saya rasa kekhawatiran kami hanya bagian dari karangan bunga untuk menghibur mereka yang mengambil keputusan.”
Keadaan semakin rumit dengan pernyataan resmi yang cenderung mengelak. Tidak ada yang mau mengambil tanggung jawab, sementara nyawa warga terus menjadi taruhan. Ini bukanlah masalah baru, tetapi menjadi semakin absurd dengan setiap kecelakaan yang terjadi.
Sementara itu, masyarakat terus menanti kejelasan, tetapi mungkin harapan mereka hanya akan terpenuhi ketika tragedi ini menjadi angka statistik yang terlupakan. Ironisnya, mungkin itulah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini — dengan tidak mengakui bahwa masalah itu ada.
Dalam situasi di mana kebenaran bergantung pada siapa yang mengendalikan narasi, satu hal pasti, ini bukanlah tentang keselamatan atau keadilan, tetapi tentang bagaimana mempertahankan citra di atas segalanya.














